Archive for May, 2004

Free Software dan Open Source

Dalam perkembangan dunia software, ada dua ideologi gerakan utama yang memicu munculnya komunitas-komunitas. Yang pertama yakni Gerakan Free Software (1984), Gerakan yang berlandaskan moral dan etika, yaitu gerakan dengan tujuan membuat semua software bebas dari pembatasan IP (intelctual property), yang mana diyakini menghambat pengembangan teknis dan melawan nilai-nilai positif yang ada dalam komunitas. Yang kedua yaitu Gerakan Open Source (1998), tujuannya hampir sama dengan gerakan diatas, namun dengan pendekatan lebih pragmatis, yakni lebih mendasarkan argumennya pada faktor ekonomi dan keuntungan secara teknis dengan cara menyediakan source code secara bebas untuk publik.

Free Software Foundation Free Software dipimpin oleh Free Software Foundation, sebuah organisasi pengumpulan dana untuk GNU Project. Free Software lebih dari sekedar ideologi. Free disini sama seperti dalam ‘free speech, bukan free beer‘, maksudnya free software adalah mencoba untuk memberi jaminan hak-hak tertentu baik bagi user dan developer. Kebebasan ini termasuk kebebasan untuk menjalankan program untuk keperluan apa saja, kebebasan untuk mempelajari dan memodifikasi source code-nya, kebebasan untuk mendistribusikan source code-nya, dan kebebasan untuk membagi hasil modifikasi yang telah anda buat. Untuk menjamin kebebasan ini dibuatlah GNU General Public License (GPL). GPL, secara umum, memaparkan bahwa siapa saja yang mendistribusikan program yang telah dicompile dan dilisensikan dibawah GPL harus menyediakan juga source code-nya, dan memberikan kebebasan bagi siapa saja untuk memodifikasi program tersebut selama modifikasi tersebut juga menyertakan source code-nya dalam pendistribusianya. Hal ini memberikan jaminan “sekali program tersebut terbuka untuk komunitas, tidak dapat ditutup kecuali dengan persetujuan dari pencipta code-nya masing-masing (meskipun hanya modifikasinya). Sebagian besar Program Linux dilisensikan dibawah GPL. Penting diingat bahwa GPL tidak mengatakan sesuatu tentang harga. Anda dapat mengambil keuntungan dari free software. Free maksudnya adalah kemerdekaan yang anda punya terhadap souce code-nya, bukan harga yang anda bayar untuk software. (namun, sekali seseorang menjual program yang telah di-compile dan berlisensi dibawah GPL kepada anda, atau memberikan kepada anda, dia juga wajib memberikan akses ke source code-nya)

Free Software Foundation Setelah Gerakan Free Software muncul gerakan yang lebih muda, yaitu Gerakan Open Source yang dipimpin oleh Open Source Initiative (OSI). Open Source Initiative (OSI) semata-mata organisasi yang berdiri untuk medukung Open Source Software, yakni software yang tersedia berikut source code-nya. mereka tidak menawarkan lisensi khusus, namun mereka mendukung bermacam-macam tipe lisense open source yang ada. Ide dibelakang OSI adalah untuk mencari sebanyak-banyaknya perusahaan terjun ke komunitas open source dengan mengijinkan mereka menulis lisensi open source mereka sendiri dan kemudian disertifikasi oleh OSI. Karena banyak perusahaan ingin merilis source code, namun tidak ingin menggunakan GPL, karena mereka tidak dapat secara drastis melisensikannya dibawah GPL.

Meskipun Free Software Fondation dan Open Source Initiative berjalan bersama-sama dan beriringan satu sama lain, bukan berarti mereka adalah sesuatu yang sama. Free Software Fondation menggunakan lisensi yang spesifik dan menyediakan software dibawah lisensi tersebut. Sedangkan Open Source Initiative mencari dan memberi dukungan untuk semua lisensi open source, termasuk salah satunya dari Free Software Fondation. Argumen yang dijadikan dasar oleh masing-masing kelompok dalam memberikan akses secara bebas ke source code kadang-kadang membedakan dua buah gerakan, namun kenyataanya bahwa dua kelompok yang berebeda ideologi tetap saling memberi kepercayaan kepada usahanya masing-masing.

HAKI Open Source

Hak atas Kekayaan Intelektual Open Source

Jika anda membuat sebuah software dan ingin merilis software tersebut sebagai sebuah produk open source dan anda memiliki keinginan agar nama anda tetap tercantum disetiap produk software tersebut, tidak peduli siapa saja yang menggunakannya atau dimana saja akan diimplementasikan atau anda ingin memastikan bahwa tidak akan ada orang lain yang nantinya mengclaim bahwa merekalah yang menciptakan software anda tersebut. Sebagai contoh kasus saat ini ada banyak software open source yang dikembangkan oleh komunitas internet namun seperti kita ketahui ada orang atau organisasi dibelakangnya yang memiliki ide awal atau membuatnya pertama kali. Bagaimanakah cara untuk melakukan hal seperti ini?

Tentunya tersedia perlindungan hak atas kekayaan intelektual melalui trademark dan copyright, namun selain itu ada juga sejumlah pilihan licensing tergantung keinginan anda. Sebagai contoh apakan anda ingin mengembangkan software tersebut sendiri atau apakah anda menginginkan dukungan atau kontribusi komunitas internet untuk bekerja bersama anda?

Jika anda menginginkan kontribusi komunitas internet yang terbuka untuk proyek anda, misalnya anda sekarang sedang mengembangkan sebuah software, dan anda ingin merilis versi pertamanya serta membukanya untuk publik sehingga semua orang dapat ikut memberikan kontribusi dalam pengembangan selanjutnya, dan anda tidak keberatan orang lain mengembangkan software anda tersebut dan anda benar-benar ingin nama anda selalu dihubungkan dengan software tersebut serta dikenal sebagai initial creator nya, ada beberapa cara untuk melakukan hal ini:

  • Gunakan pendakatan seperti Linus Torvalds dengan mencampur nama anda dengan nama software tersebut. (contoh Linux, atau pencipta ReiserFS: Hans Reiser)
  • Pilihlah lisensi yang sesuai. Daftar lisensi yang sesuai dengan keinginan anda dapat ditemukan di opensource.org. Lisensi yang paling terkemuka adalah GPL (Genera Public Lecense), dan produk-produk yang berlisensi GPL selalu menyertakan copyright notices dalam filenya. Perlu dicermati sebagian lisensi yang ada dalam daftar tersebut mencegah pengembangan proyek anda untuk tujuan komersial. MPL (Mozilla Public Licese) juga sebuah lisensi yang cocok dengan apa yang anda inginkan. Anda mungkin juga membutuhkan sebuah lisensi khusus untuk dokumen normatif anda atau paling tidak ada copyright notice yang menyertainya. Anda dapat menemukan contoh yang bagus di W3C’s Intellectual Property FAQ. Lihatlah satu dari dokumen spesifikasi normatif W3C, contohnya The Document Object Model (DOM) Level 1 Specification. Perhatikan lebih seksama pada copyright noticenya. Mungkin itu salah satu yang cocok dengan keinginan anda.
  • Sediakan dokumentasi online untuk proyek/software anda. Dokumentasi merupakan sesuatu yang sangat diharapkan namun biasanya merupakan hal sangat malas dibuat. Selama dokumentasi anda berguna untuk proyek/software tersebut, maka akan dilink dimana saja proyek tersebut dibicarakan. Dari sini orang akan mulai bertanya mengenai proyek/software anda, pertama-tama biasanya akan membaca dokumentasi anda dan akan mengasosiasikan/menghubungkan nama anda dengan software tersebut, mungkin lama sebelum mereka benar-benar terjun mengerjakan atau berkontribusi dalam proyek tersebut. Selain itu juga direkomendasikan untuk secara aktif mendaftarkan link dokumentasi proyek anda ke search engines dan menambahkan meta-information (seperti author info).
  • Menyediakan sebuah tempat untuk pengembangan proyeknya. Jika anda ingin memikat developer ke situs proyek anda, anda harus melakukan hubungan langsung dengan mereka dan harus banyak mempengaruhi pengembangan selanjutya. Paling tidak anda menjadi salah satu dari administrator. Tempat yang bagus untuk memulai membuka proyek adalah Sourceforge. Jasa gratis ini memberikan anda keuntungan karena bisa menggunakan central source repository systems seperti CVS.
  • Kirimkan release notes ke newsgroup yang sesuai dan masukkan link ke situs koleksi software seperti freshmeat.
  • Secara umum dapat dipastikan bahwa bahwa orang-orang open source akan menghargai pekerjaan orang lain, jangan khawatir anda akan dilupakan.

    Trend Software Open Source

    Pemerintahan di seluruh dunia saat ini sedang tertular demam open source, sebuah software yang mengijinkan mereka untuk melihat dan memodifikasi source codenya, tidak seperti proprietary software seperti yang dibuat oleh Microsoft. Namun pertanyaanya apakah trend global ini akan terus berlanjut? Jawabannya tergantung pada beberapa faktor yang merintangi penyebaran gerakan open source ini.

    Salah satu rintangannya adalah awal pengembangan teknologinya yang lebih banyak berorientasi pada server dari pada aplikasi desktop, selain itu adanya oposisi yang dilakukan oleh Microsoft (perusahaan software yang paling dominan di dunia) yang menempatkannya sebagai perusahaan yang paling terpukul jika pemerintahan beramai-ramai beralih ke produk open source.

    Saat ini produk open source yang paling terkenal adalah Linux yang mana pada acara LinuxWord baru-baru ini di California terus-menerus mempromiskan Linux dan terus melakukan pengembangsan produk. Dan makin banyak pembuat software yang mempatenkan idenya sebagai software open source dan membuat persaingan makin seru.

    Beberapa tahun belakangan, “U.N. World Summit on the Information Society” (WSIS) menjadi event yang paling diperhatikan oleh negara-negara berkembang. Dari deklarasi WSIS terlihat tawaran-tawaran solusi software open source untuk negara-negara berkembang. Dan isunya sudah mencapai ke agenda pemerintahan multilateral yang mana sebagian besar memiliki persepsi yang sama bahwa software open source lebih murah dan lebih mudah daripada produk proprietary.

    Hal tersebut juga diperhatikan oleh “Organization for Economic Cooperation and Development”, yang menganjurkan penggunaan teknologi open source dalam petunjuk cyber-security-nya. Selain itu “World Intellectual Property Organization” berencana mengadakan pertemuan untuk membicarakan hal yang sama tahun depan. Sedangkan pada pertemuan “Asia Pacific Economic Cooperation” (APEC) di Thailand, Amerika mendorong pemerintahan agar tidak ikut campur dan menyerahkan pilihan pada pasar apakah mau menggunakan software open source atau proprietry.

    Meskipun muncul persaingan menghadapi software open source ini, industri teknologi Amerika mengakui secara signifikan adanya evolusi dibidang industri ini. Pemain-pemain besar seperti IBM, Intel dan Oracle, telah mengakomodasi open source dalam produk dan service-nya. Asosiasi industri amerika (“U.S. industry trade associations”) makin serius membahas tentang propriety dan open source ini.

    Posisi pemerintah Amerika terhadap open source juga mencerminkan adanya perpecahan dalam industri dan sudah menjadi pandangan Amerika bahwa dalam pertarungan internasional, hukum seharusnya tidak menentukan teknologi mana yang seharusnya digunakan, apakah itu open source atau propriety. Menurut mereka pemerintahan seharusnya netral dalam investasi. Mereka juga menambahkan bahwa US tidak menghalangi gerakan open source namun memberikan keduanya (baik software open source maupun proprietary) kesempatan yang sama dan silakan anda pilih mana yang lebih baik, lebih cepat dan lebih cost effective. Dan sepertinya banyak industri dan pemerintahan yang setuju akan hal tersebut.

    Pemerintahan diseluruh penjuru dunia saat ini sedang beramai-ramai mengadopsi produk open source, namun usaha untuk membuat peraturan yang mengunggulkan penerapan open source banyak yang digagalkan.

    Uni Eropa dan banyak negara di Eropa termasuk Austria, Belgia, Bulgaria, Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Itali, Belanda, Portugal, Spanyol, Swedia, Switzerland, Ukraina dan Ingris telah memperlihatkan dukungannya kepada open source, sebagai contoh pemerintahan Spanyol yang secara resmi mengadopsi software open source dan memutuskan serta meminta agar departemen-departemen pemerintahan tertentu untuk menggunakan free software, keputusanya diimplemantisakan di musim semi 2003.

    Sedangkan “Department of Communications, Information Technology and the Arts” Australia baru-baru ini menyatakan bahwa pemerintah tidak membutuhkan hukum dan guideline dalam pemakaian software karena sudah menjadi kewajibannya untuk mempertimbangkan segala opsi dan memilih mana yang pantas. Dan mereka mengatakan usulan “Australian Unix Users Group” (AUUG) mengenai “open source procurement guidelines” (yang kalo diterapkan implikasinya manaruh hati pada open source) dianggapnya tidak perlu. Sedangkan Darren Sommers, dari “Herbert Geer and Rundle Lawyers”, menyatakan proposal AUUG hanyalah guidelines dan tetap membutuhkan dukungan legislasi untuk membuatnya memiliki kekuatan.

    Di Asia, pemerintah korea bersama-sama dengan jepang dan china juga sedang mempertimbangkan pemakaian open source dalam penelitian dan usaha pengembangan, bahkan china sendiri telah mengadopsi open source. Menurut “Gartner Australia”, yang paling tertarik dalam penggunaan Linux di kawasan Asia Pacific adalah Australia, Jepang, China dan Korea. Dan momentum ini datang dari pihak pemerintah bukan dari enterprise. Berbeda dengan Singapore yang tidak mempertimbangakn penggunaan Linux secara meluas di pemerintahan seperti yang dinyatakan oleh “Infocomm-Development Authority (IDA) of Singapore” (pembuat peraturan dibagian indistri teknologi). Dan menurut “Gartner Australia” Singapore memang lebih dekat ke Microsoft dan perusahaan tradisonal pengembang software komersial lainnya. Namun IDA sekarang telah memasukkan Linux sebagai opsi untuk tender dan kontrak pemerintah. Sedangkan di Malaysia, perdana menteri Mahathir Mohamad tertarik terhada software open source dan menganjurkan pelayan sipil untuk mengadopsinya.

    Industri Amerika memperhatikan perkembangan internasional ini dan tidak segan berkomunikasi secara langsung bila sudah menyangkut peraturan, legislasi, dan kebijakan pemerintah. “Association for Competitive Technology”, yang mana Microsoft menjadi anggotanya, telah mempertanyakan “peraturan yang menentukan pemilihan teknologi” apakah melanggar hukum WTO. Dan “Initiative for Software Choice (ISC)”, koalisi yang dioperasikan oleh “Computer and Telecommunications Industry Association (CompTIA)” yang juga ada Microsoft dalam daftar anggotanya, terus mengamati perkembangan “open source legislative”.

    Baru-baru ini, asosiasi perdagangan open source yang bernama “Open Source and Industry Alliance”, dibentuk di Washington sebagai serangan balik terhadap manuver-manuver Microsoft. Dan mereka menekankan bahwa isu sebenarnya adalah mengenai Linux. Apa yang Microsoft inginkan adalah mengalahkan Linux dan menciptakan keraguan akan penjualan dan pendistribusian Linux.

    Namun sebenarnya kunci pengadopsian produk open source juga terletak pada sikap pemerintahan dalam membuat keputusan. Namun dunia industri kelihatannya selalu berebut opini bahwa menilai keunggulan software harus fair dan pemerintah seharusnya memilih produk yang paling sesuai dengan kebutuhannya tidak berdasarkan pada emosional.

    Di Brasil, sejak Luiz Inacio Lula da Silva dari partai buruh menjabat presiden mulai januari 2003 lalu, dukungan pemerintah terhadap open source makin kuat. Dan baru-baru ini disana diadakan “Legislative Free Software Week” yang berlangsung dari 18-22 Agustus 2003 yang diadakan oleh “Federal Senate”. Dalam event tersebut terlihat bahwa pemerintahan Brasil tidak hanya berlarut-larut dalam diskusi mengenai penggunaan free software namun mengambil langkah-langkah nyata dalam penerapannya untuk pemerintahan. Bahkan anggota kongres dari partai buruh, Walter Pinheiro, menyatakan bahwa “kongres akan menunjukkan bahwa pembeli software terbesar, yaitu pemerintah, menggunakan free software dan ini mungkin akan menjadi contoh yang baik bagi yang lain”. Dan Pinheiro juga mengatakan bahwa “House of Representatives” tidak akan memperbaharui Microsof office nya yang senilah US $1.3 juta dan sedang mempelajari alternatif free software“nya, dan selanjutnya akan mengganti sistem email-nya dengan produk free sosftware.

    Sedangkan di Amerika tidak ada hukum mengenai open source yang dapat dijadikan model oleh industri, namun pihak CompTIA lebih menyukai hukum di New Zealand, yang pada initinya menjelaskan bahwa dalam membeli software harus berdasarkan cost, fungsi, security, dan kemampuannya dalam bekerja dengan sistem lain.

    Dibulan april 2003, “Center of Open Source and Government” yang berada di “George Washington University”, menyatakan bahwa kecurigaan yang dibangun industri software proprietary hanya berusaha agar pemerintahan tidak membuat hukum yang mempertimbangkan open source. Dan pihak “Center of Open Source and Government” setuju dengan pernyataan eksplisit pemerintah Afrika Selatan yang melegitimasi open source dan memerintahkan lembaga-lembaga pemerintah untuk memimpin program open source. Selain itu mereka juga menyetujui pernyataan Afrika Selatan bahwa beberapa ketetapan yang menguatkan open source dibutuhkan sampai open source memiliki kekuatan kompetitif yang sama dengan software proprietry, dan mendukung pengakuan Afrika Selatan bahwa produk opensource memiliki keuntungan sosial dan sekaranglah waktu untuk mengadopsinya.

    Refference:
    * ‘Open source’ software trend faces barriers
    * Alston dismisses call for open source procurement guidelines
    * Brazilian parliament to adopt free software
    * Asian Linux: Some keen, others cool